Kamis, 10 Oktober 2013

Bumi Manusia



                                                                      Tetralogi buruh
Judul buku      : “ BUMI MANUSIA “
Pengarang       : Pramoedya Ananta
  Toer
Tebal buku      : 535 halaman
Penerbit           : Lentera Dipantara

 sinopsis
“Bumi Manusia” merupakan Roman luar biasa yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Roman ini mengambil latar belakang dan cikal-bakal nasional Indonesia diawal abad ke-20. Roman ini menceritakan kembali tentang gejolak pergerakan bangsa Indonesia pada masa penjajahan kolonial belanda, dengan mengisahkan  seorang pemuda pribumi yang bernama minke sebagai tokoh utama dalam cerita ini, seorang pemuda yang benar-benar berjiwa muda dan mempunyai semangat layaknya api yang berkobar-kobar, juga sangat mengagumi eropa dan ingin mencoba melepaskan nilai-nilai kejawaannya dan mencari kebebasan. Minke telah mengalami banyak permasalahan dalam hidupnya dengan segala problematikanya. Banyak pesan moral yang disampaikan penulis melalui karyanya ini, baik secara tersirat maupun tersurat. Diantaranya yaitu perlu kita sadari bahwa dari jaman kolonial, bangsa Indonesia sangat jatuh dan rendah derajatnya bukan hanya disebabkan oleh bangsa eropa yang selalu menindas hak-hak bangsa Indonesia,  melainkan juga karena rendahnya moral atau prilaku bangsa Indonesia itu sendiri, mereka terbutakan oleh harta dan jabatan semata. Seperti halnya dalam roman ini menceritakan seorang bapak yang menjual anak perempuannya dan menjadikan anaknya sebagai seorang gundik pengusaha Eropa demi mendapatkan sebuah jabatan yang dipandangnya terhormat. Dalam roman karangan Pram ini juga menceritakan tentang sebuah kehidupan masyarakat yang sangat menonjolkan perbedaan kelas dalam strata sosial di lingkungannya, dimana orang pribumi selalu dianggap rendah, orang eropa menjadi orang yang sangat disegani dan seorang gundik selalu dipandang sebagai seorang perempuan yang kotor, tidak bermoral dan tidak mempunyai harga diri, melalui alur cerita ini Pram menyampaikan bahwa “kita tidak boleh menghakimi sesuatu yang tidak kita ketahui”, maksudnya adalah jika kita kaitkan dengan cerita pada roman ini “janganlah mudah mempercayai omongan orang lain sebelum kita merasakan dan menyaksikannya sendiri dari sudut pandang netral”, seperti halnya penilaian masyarakat terhadap nyai Ontosodoh, yang faktanya tidak seperti apa yang mereka pikirkan.
Seorang guru sastra dan bahasa belanda dalam roman ini mengajarkan parasiswanya tentang persamaan hak dan kebebasan manusia yang dapat disalurkan melalui karya sastra, seperti halnya yang telah dilakukan oleh tokoh utama dalam roman ini, yaitu minke yang mengapresiasikan keinginannya untuk mencari kebebasan yang hakiki dan membrantas ketertinggalan yang dialami oleh bangsanya yang selalu tertindas oleh bangsa eropa, dia menyalurkan keinginannya tersebut melalui karya tulisnya yang dimuat di berbagai Koran lelang yang berhasil mengambil perhatian masyarakat dan para pejabat kala itu, melalui karya tulisnya yang ia beri nama max tollener minke sangat  berharap untuk bisa menyadarkan pemuda bangsanya, bahwa sebagai pewaris dan penerus bangsa Indonesia yang telah terjajah harus bisa bangkit untuk berjuang melawan bangsa eropa.
Dalam roman ini Pram juga menggambarkan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh eropa seperti halnya hukum yang tidak adil dan kejam, yang tidak mempunyai rasa manusiawi. Konflik hukum yang diceritakan pada roman ini, dapat membuka mata kita bahwa dari masa penjajahan hingga masa revolusi hukum tidak bisa di tegakan dengan adil,  hukum hanya di jadikan sebagai alat bantu bagi manusia yang berkuasa dan mendominasi satu pihak terhadap pihak lain yang lebih rendah(tertindas). Oleh karena itu, hukum adalah permainan mereka orang-orang yang merasa dirinya mempunyai kekuasaan, merasa dihormati dan disegani oleh bangsanya. Hingga tidak mudah bagi seorang pribumi yang mendapat permasalahan dalam perkara hukum untuk memenangkan perkaranya di meja hijau, dan hanya kekalahanlah yang akan mereka dapatkan. Seperti halnya yang di alami oleh salah satu tokoh dalam roman ini, yaitu nyai ontosodoh tidak diakuai sebagai istri tuan mellena oleh pihak pengadilan Amsterdam. Oleh karena itu, semua hartanya akan disita dan mereka meminta hak asuh terhadap annelis dan tidak pula mengakui pernikahan annelis dengan minke. sebagai perempuan pribumi berdarah indo yang berada di bawah kekuasaan hukum eropa, annelis tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawan kerasnya hukum pengadilan Amsterdam, meskipun sang ibu (nyai ontosodoh) dan suaminya (minke) telah melakukan seribu cara untuk menolongnya, namun dia tetap kalah melawan kekuatan hukum eropa. Dalam menghadapi peristiwa ini nyai ontosodoh tidak merasa rentang dan mudah menyerah pada kerasnya batu kehidupan, walaupun nyai ontosodoh sudah dapat memastikan bahwa kepahitan dari kekalahanlah yang akan di dapatkannya, namun nyai ontosodoh tidak mau kalah sebelum perang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar