Tetralogi buruh
Pengarang : Pramoedya Ananta
Toer
Tebal buku : 535 halaman
Penerbit : Lentera Dipantara
sinopsis
“Bumi
Manusia” merupakan Roman luar biasa yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Roman ini mengambil latar belakang dan cikal-bakal nasional
Indonesia diawal abad ke-20. Roman ini menceritakan kembali tentang gejolak
pergerakan bangsa Indonesia pada masa penjajahan kolonial belanda, dengan mengisahkan
seorang pemuda pribumi yang bernama
minke sebagai tokoh utama dalam cerita ini, seorang
pemuda yang benar-benar berjiwa muda dan mempunyai semangat layaknya api yang
berkobar-kobar, juga sangat mengagumi eropa dan ingin mencoba melepaskan nilai-nilai
kejawaannya dan mencari kebebasan. Minke telah mengalami banyak permasalahan
dalam hidupnya dengan segala problematikanya. Banyak pesan moral yang
disampaikan penulis melalui karyanya ini, baik secara tersirat maupun tersurat.
Diantaranya yaitu perlu kita sadari bahwa dari jaman kolonial, bangsa Indonesia
sangat jatuh dan rendah derajatnya bukan hanya disebabkan oleh bangsa eropa
yang selalu menindas hak-hak bangsa Indonesia, melainkan juga karena rendahnya moral atau
prilaku bangsa Indonesia itu sendiri, mereka terbutakan oleh harta dan jabatan
semata. Seperti halnya dalam roman ini menceritakan seorang bapak yang menjual
anak perempuannya dan menjadikan anaknya sebagai seorang gundik pengusaha Eropa
demi mendapatkan sebuah jabatan yang dipandangnya terhormat. Dalam roman
karangan Pram ini juga menceritakan tentang sebuah kehidupan masyarakat yang
sangat menonjolkan perbedaan kelas dalam strata sosial di lingkungannya, dimana
orang pribumi selalu dianggap rendah, orang eropa menjadi orang yang sangat
disegani dan seorang gundik selalu dipandang sebagai seorang perempuan yang
kotor, tidak bermoral dan tidak mempunyai harga diri, melalui alur cerita ini
Pram menyampaikan bahwa “kita tidak boleh menghakimi sesuatu yang tidak kita
ketahui”, maksudnya adalah jika kita kaitkan dengan cerita pada roman ini “janganlah
mudah mempercayai omongan orang lain sebelum kita merasakan dan menyaksikannya
sendiri dari sudut pandang netral”, seperti halnya penilaian masyarakat
terhadap nyai Ontosodoh, yang faktanya tidak seperti apa yang mereka pikirkan.
Seorang guru
sastra dan bahasa belanda dalam roman ini mengajarkan parasiswanya tentang
persamaan hak dan kebebasan manusia yang dapat disalurkan melalui karya sastra,
seperti halnya yang telah dilakukan oleh tokoh utama dalam roman ini, yaitu minke
yang mengapresiasikan keinginannya untuk mencari kebebasan yang hakiki dan
membrantas ketertinggalan yang dialami oleh bangsanya yang selalu tertindas
oleh bangsa eropa, dia menyalurkan keinginannya tersebut melalui karya tulisnya
yang dimuat di berbagai Koran lelang yang berhasil mengambil perhatian masyarakat
dan para pejabat kala itu, melalui karya tulisnya yang ia beri nama max
tollener minke sangat berharap untuk
bisa menyadarkan pemuda bangsanya, bahwa sebagai pewaris dan penerus bangsa
Indonesia yang telah terjajah harus bisa bangkit untuk berjuang melawan bangsa
eropa.
Dalam roman
ini Pram juga menggambarkan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh eropa
seperti halnya hukum yang tidak adil dan kejam, yang tidak mempunyai rasa
manusiawi. Konflik hukum yang diceritakan pada roman ini, dapat membuka mata
kita bahwa dari masa penjajahan hingga masa revolusi hukum tidak bisa di
tegakan dengan adil, hukum hanya di
jadikan sebagai alat bantu bagi manusia yang berkuasa dan mendominasi satu
pihak terhadap pihak lain yang lebih rendah(tertindas). Oleh karena itu, hukum
adalah permainan mereka orang-orang yang merasa dirinya mempunyai kekuasaan,
merasa dihormati dan disegani oleh bangsanya. Hingga tidak mudah bagi seorang
pribumi yang mendapat permasalahan dalam perkara hukum untuk memenangkan
perkaranya di meja hijau, dan hanya kekalahanlah yang akan mereka dapatkan.
Seperti halnya yang di alami oleh salah satu tokoh dalam roman ini, yaitu nyai
ontosodoh tidak diakuai sebagai istri tuan mellena oleh pihak pengadilan Amsterdam.
Oleh karena itu, semua hartanya akan disita dan mereka meminta hak asuh
terhadap annelis dan tidak pula mengakui pernikahan annelis dengan minke. sebagai
perempuan pribumi berdarah indo yang berada di bawah kekuasaan hukum eropa, annelis
tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawan kerasnya hukum pengadilan
Amsterdam, meskipun sang ibu (nyai ontosodoh) dan suaminya (minke) telah
melakukan seribu cara untuk menolongnya, namun dia tetap kalah melawan kekuatan
hukum eropa. Dalam menghadapi peristiwa ini nyai ontosodoh tidak merasa rentang
dan mudah menyerah pada kerasnya batu kehidupan, walaupun nyai ontosodoh sudah
dapat memastikan bahwa kepahitan dari kekalahanlah yang akan di dapatkannya,
namun nyai ontosodoh tidak mau kalah sebelum perang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar