Sabtu, 07 Juli 2012

RESENSI BUKU


 Resensi Buku

Oleh: Asep Rizky Padhilah

IDENTITAS BUKU

    a.       Judul buku                  : Menggapai Impian.
    b.      Penulis                         : Masriyah Amva.
    c.       Penerbit                       : Kompas.
    d.      Cetakan                       : September 2010.
    e.       Tebal Halaman            : 288 halaman.
    f .      Jenis cover                   : Soft cover.
    h.      Dimensi (PxL)             : 140x210mm.
    i.        Kategori                      : Islam.
    j.        Teks bahasa                 : Indonesia.


 Biografi Pengarang.
HJ. MASRIYAH AMVA, lahir pada 13 Oktober 1961 di sebuah kampong pesantren di Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Semasa kecil ia dididik langsung oleh ayah-ibunya, KH. Amrin Hannan dan Hj. Fariatul’Aini yang sehari-hari menjadi pengasuh utama pesantren mereka.
Kedua kakeknya, K.H. Amin dan K.H. Abdul Hannan, merupakan ulama kharismatik yang disenangi bukan hanya karena kedalaman ilmunya tetapi juga karena ketekunan dan kesabarannya membimbing para santri dan masyarakat setempat.
Setelah belajar di pesantren Al-Muayyad Solo, di bawah bimbingan KH. Umar, Masriyah belajar di pesantren Al Badi’iyah di Pati Jawa Tengah di bawh bimbingan Nyai Hj. Nafisah Sahal dan KH. Sahal Mahfudz, setahun ia mengikuti pendalaman di pesantren Dar Al-Lughah Wa Da’wah di Bangil Jawa Timur dan berguru langsung kepada Habib Hasan Baharun. Pada saat belajar di Bangil ini Ia di pinang KH. Syakur Yasin dan diajak menatap di Tunisia selama empat tahun.
Masriyah sempat melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon sampai semester dua. Setelah delapan tahun berumah tangga, Ia berpisah dengan suami pertamanya dan setahun kemudian menikah lagi dengan K.H. Muhammad, pendiri pesantren Kebon Melati, bersama suami keduanya ini Masriyah merintis pendirian Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin, dimana Ia sendiri banyak mendampingi santri putrinya.
Di luar tembok pesantren, Masriyah aktif di bidang pemberdayaan masyarakat, khususnya penguatan ekonomi masyarakat bawah. Sesekali ia juga berpartisipasi dlam kegiatan-kegiatan muslim – Fatayat NU, di organisasi pendampingan Perempuan Mawar Balqis, serta di pusat kajian keagamaan Fahmina Institute.
Masriyah sudah menulis tiga buku antologi puisi, Ketika Aku Gila Cinta (2007), Setumpuk Surat Cinta (2008), dan Ingin dimabuk Asmara (2009). Ia juga penulis buku laris Bangkit dari Terpuruk (2010) terbitan Penerbit Buku Kompas.

Sinopsis
Kisah seorang pe­rem­­puan yang penuh dengan goresan luka, bilur nestapa, dan kepingan hati yang berserak ini benar-benar menginspirasi dan memotivasi kita sebagai hamba un­tuk merengkuh kasih Yang Mahakuasa. Dialah tempat ber­gantung, memohon, mengeluh, mengadu, melepas rindu, dan bermanja-manja atas anugerah dan cinta-Nya.
Aku mempunyai kekurangan dan kelemahan yang begitu banyak. Aku tidak bias melakukan pekerjaan sebagai ibu, istri, dan perempuan. Aku tidak bias memasak, pemalas, sering bangun siang, keras kepala, sulit makan, pergi ke restoran, hobi belanja, jalan-jalan, pemboros, dan lain-lain.
Aku sangat prihatin menghadapi kelemahan-kelamahan itu. Aku sering frustasi menghadapi kekurangan dan kelemahan diriku. Aku pun sering bertanya pada diri sendiri, mengapa Tuhan menciptakan aku begitu lemah dan mempunyai banyak kekurangan? Mengapa tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpji? Untuk apa hidupku ini, dan apakah ada artinya aku hidup?
Aku sering merenung, menyesali dari dan berfikir tentang kehidupanku dan orang-orang sekelilingku. Rasanya aku tidak seperti mereka. Aku hanyalah gudang kelemahan dan kekurangan. Padahal, aku mempunyai cita-cita yang mulia.
Kesadaran yang dalam akan kelemahan diri inilah yang menjadikanku mulai belajar ‘mendatangi’ Tuhan dalam hari-hariku. Tentu dengan sebatas doa dan pekerjaan-pekerjaan kecilku, aku mengharap kasih-Nya.
Aku berpikir, rasanya tidak ada satu orang pun yang mau memahamiku dan menerima segara kekuranganku, hanya Tuhan Mahakuat yang tidak pernah bosan mau menerima si lemah.
Aku tak mungkin menyandarkan kelemahanku kepada orang lain, sekali pun kepada orang tuaku. Mereka dengan kesal selalu menonjolkan kemalasan dan keborosanku. Aku punya kebiasaan yang sangat sulit makan, dan itu selalu membuatku pergi ke restoran untuk mempertahankan kesehatanku. Itulah yang membuatku tidak mungkin bersandar kepada orang tuaku atau suami, apalagi orang lain. Tentu, mereka akan bosan dan kesal menghadapi tuntunan hidup yang sangat mahal.
Semua itu, pada akhirnya membuatku mencari sosok yang baik, kuat, dan kaya. Dalam perjalanan yang sangat panjang, akhirnya aku menemukan sosok yang luar biasa. Dialah Allah SWT, Yang Maha Mengasihi dan Maha Mencukupi kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang selalu  kusesali. Kelemahan dan kekurangan itu ternyata berjasa dalam mengenalkanku kepada Sang Pencipta. Maka, di sanalah aku ‘bertemu’ Tuhanku.
Tidak kusangka, kelemahan-kelemahanku selama ini kukutuk dan kusesali member hikmah yang besar dan menjadi tanggaku untuk menggapai kekuatan diri dari Sang Mahakuasa.
Kini aku baru mengerti, mengapa Tuhan menciptakanku dengan sejuta kelemahan dan kekurangan. Ternyata, kelemahan yang selama ini membuat diriku untuk mengenal kasih saying-Nya dan Kekuasaan-Nya.
Karya lain dari Masriyah Amva, penulis buku laris Bangkit dari Terpuruk, yang juga diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Insya Allah dapat membantu Anda memahami dan mengenali diri Anda dan Zat-Nya.

Kelebihan buku.
Tulisan-tulisan ini menceritakan perjalanan usaha seorang hamba yang sangat lemah dan banyak kekurangan dalam menggapai kekuatan dan kemandirian dalam hidupnya. Dan kemudian ia bangkit sehingga dapat membuat kita lebih optimis dalam menjalani hidup. Buku ini juga dapat member lebih rasa optimis kita untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Buku ini juga dapat membimbing kita ketika sedang sedih, frustasi, putus asa, dan lain-lain. Buku ini juga dapat membimbing kita untuk berdoa kepada Allah ketika kita sedang sedih. Dalam buku ini pula terdapat doa-doa yang digunakan penulis pada saat penulis bersedih sehingga kita dapat mengikuti doa tersebut. Buku ini pula terdapat puisi-puisi yang buat oleh penulis yang dapat member rasa optimis kepada pembaca.

Kekurangan buku.
Buku ini hanya menceritakan tentang pengalaman punulis saja sehingga ceritanya monoton dan dapat membosankan. Dan buku ini juga hanya menceritakan pengalaman yang sedih saja sehingga membuat pembaca merasa sedih dan ingin berbelas kasihan.

Kelebihan buku
Bahasa yang digunakan menguunakan bahasa sehari-hari sehingga pembaca mudah mengerti isi dari buku ini. Dalam buku ini pula terdapat doa-doa yang digunakan penulis pada saat penulis bersedih. Dan terdapat pula puisi-puisi yang dibuat penulis.


Buku ini dapat menjadi bahan pada orang-orang yang merasa lemah dan memiliki banyak kekurangan agar tidak frustasi dalam menghadapi hidup. Dan dapat mengubah kelemahan-kelemahan menjadi sebuah kekuatan, atas izin Allah. Dalam buku ini pula terdapat doa-doa yang digunakan penulis pada saat penulis bersedih, sehingga dapat digunakan oleh pembaca ketika pembaca sedang bersedih. Dari buku yang di buat oleh Masriyah Amva ini, saya dapat mengambil beberapa pelajaran hidup yang  penting, salah satunya kita harus benar-benar menghargai hidup, menghargai semua pemberian Tuhan, tidak pantang menyerah bila menginginkan sesuatu, dan tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau dan berusaha. Dalam buku ini saya dapat mengambil banyak ilmu berharga diantaranya saya dapat lebih optimis dalam menjalani hidup, karena saya merasa hidup saya ini penting untuk semuannya apalagi orang tua saya. Dari buku ini juga saya dapat belajar untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, diisini saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa semua kehidupan manusia sudah ada yang mengaturnya, yaitu Tuhan. Semua yang kita kerjakan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

Peresensi adalah mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan aktivis PMII Rayon Pelangi Tarbiyah.

ALLAH MENCINTAIMU

ALLAH MENCINTAIMU
Oleh: Santi Kumala Dewi


Allah mencintaimu…
Lewat cinta ayah bunda yang tiada henti.

Allah mencintaimu…
Lewat semua masalah yang kau hadapi.

Allah mencintaimu…
Lewat saabat yang senantiasa mendoakanmu.

Allah mencintaimu…
Dalam setiap debaran jantung dan desahan nafas yang diberi.

Allah mencintaimu…
Lewat teguran yang begitu lambat, sampai kau tak mengerti.

Santi Kumala Dewi, adalah Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris  IAIN Syekh Nurjati Cirebon   dan aktivis PMII Rayon Pelangi Tarbiyah 


Kamis, 05 Juli 2012

KEBOBROKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA


KEBOBROKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Oleh: Masrur*


Mencontek : Salah satu kebobrokan Pendidikan di Indonesia
Salam sejahtera buat kita semua, sahabat mahasiswa kali ini mencoba menulis sebuah kajian keilmuan dalam ranah pendidikan yang diambil dari pengalaman empiris yang dijadikan metode untuk menganalisis sebuah fenomena yang terjadi di sekitar kita khususnya dalam aspek ketarbiyahan, ketarbiyahan atau pendidikan merupakan suatu hal yang mesti kita pahami baik secara arti maupun orientasi. sehingga tidak mengalami disorientasi dalam mengaktualisasikannya.
Melalui diskusi rutin bersama sahabat-sahabat PMII Rayon Pelangi Tarbiyah adalah sebuah pangalaman yang mengasikkan dan mengahasilkan sebuah ilmu yang bermanfaat. Selaku kaum cendikiawan muda, menggali sebuah ilmu pengetahuan melalui diskusi yang bebas akan menumbuhkan sikap solidaritas yang amat kuat, dan menumbuhkan kesadaran kritis. baik kritis secara intelektual maupun kritis secara emosional dan spiritual. Sacangkir kopi, makanan ringan menjadi teman akrab dalam diskusi. sahabat-sahabati yang elok dalam beragumen tanpa adanya pembatasan dalam berpikir secara bebas mengeksplorasi pemikirannya dalam menjawab persoalan yang sedang terjadi di realita kehidupan masyarakat (belajar memahami sebuah arti kehidupan). itulah yang dinamakan proses belajar memanusiakan manusia (humanistik) yang mengahargai citra dan fitrah manusia.
Kata “pendidikan” dalam pandangan penulis adalah sebagai “aset bangsa” yang paling berharga. Tanggal 2 Mei adalah merupakan sebuah peringatan monumental di seantero jagad Nusantara, pada tanggal itu masyarakat Indonesia (dari Sabang sampai Merauke) merayakan hari pendidikan nasional, seakan ingin menegaskan bahwa pendidikan benar-benar adalah modal besar untuk membangun negeri ini. Namun sangat disayangkan dengan apa yang terjadi di lapangan sangat kontradiktif, bahkan ironis, pendidikan yang semula diharapkan mejadi bekal buat membangun masyarakat Indonesia baru yang tercerahkan, justru sebaliknya, menjadi cobaan yang justru membuat bangsa ini kian terpuruk lebih dalam.
Bukan tanpa sebab bila kondisi dunia pendidikan amatlah memprihatinkan. Ada banyak hal yang membuat pendidikan melenceng semakin jauh dari cita-cita idealnya sebagai wahana pembebasan dan pemberdayaan. Penulis menyoroti dua persoalan yang laten dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pertama, kecederungan pendidikan kita yang semakin elitis  dan tak terjangkau oleh rakyat miskin. Dalam hal ini pemerintah banyak melahirkan kebijakan diskriminatif yang justru menyulitkan akses rakyat miskin ke pendidikan. Kedua, Manajemen pendidikan yang birokratis dan hegemonik. Sistem pendidikan yang ada saat ini bukanlah yang memberdayakan dan populis. Terbukti, berbagai kebijakan yang lahir tidak mendukung terwujudnya pendidikan yang emansipatoris karena kebijakan tersebut lahir semata-mata untuk mendukung status quo dan memapankan kesenjangan sosial.
Bertolak dari kegelisahan itulah, melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada pembaca yang budiman untuk mereflesikan ulang terhadap kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Di sini secara bertahap, proses pencarian untuk  mengulas banyak hal yang menjadi pertayaan besar sekaligus “perkerjaan rumah” dalam pendidikan nasional, dari soal anggaran, nasib guru yang kian tak menentu, harapan dan pesemisme terhadap reformasi pendidikan, sampai pada paradigma pendidikan yang membebaskan, bukan sistem pendidikan yang memperbudak. Persoalan-persoalan inilah yang berimplikasi pada dunia pendidikan kita sehingga terus-menerus mengalami involusi. Pendidikan berjalan ditempat, tadak ada kemajuan berarti.
Disorientasi sekarang sedang terjadi dalam dunia pendidikan nasional, hal ini disebabkan adanya intervensi dari kalangan yang tidak bertangungjawab, demi mendapatkan keuntungan pribadinya tanpa memikirkan citra dan fitrah manusia sebagai insan yang merdeka, pendidikan orang dewasa hanyalah sebatas simbol yang ada dalam dunia pendidikan kita saat ini. Pendidikan adalah suatu hal yang mulia. Tetapi di dunia yang semakin kapitalis ini, pendidikan terlibat dengan kepentingan politik dan ekonomi (kapitalisasi pendidikan). maka dari itu, ada hal yang perlu disoroti secara khusus seperti: adanya malpraktik pendidikan pada tingkat kebijakan yang marak terutama setelah bergulirnya otonomi daerah. Bentuk-bentuk malpraktik itu adalah korupsi yang semakin tinggi dari pusat sampai daerah. Ketidakpedulian para penguasa terhadap nasib guru dan anak didik. Maraknya pungutan liar (pungli) dan lain sebagainya, menambah daftar panjang kebobrokan sistem pendidikan di Indonesia.
Sahabat-sahabat mahasiswa, mari kita bersama-sama membenahi sistem pendidikan nasional. Diawali dengan diri kita sendiri, kita reflesikan dan tancapkan di dalam hati bahwa pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan yang berarti, mengerahkan segala daya dan upaya untuk menumbuhkan budi pekerti, mengoptimalkan potensi emosional (karakter, moral), potensi intelektual dan potensi sosial. Wallahu ‘Alam bishawaab.

* Penulis adalah Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan Aktivis PMII Rayon Pelangi Tarbiyah

SEPUCUK SURAT BERWARNA PINK


SEPUCUK SURAT BERWARNA PINK
Oleh : Euis Nelly Sa’adah*

            “Aku memang nggak pernah ada artinya untukmu, Mas,” ucap Kila sembari tersedu di hadapan laki-laki yang sangat disayanginya. Laki-laki yang sudah hampir setahun menjadi imam dalam hidupnya. Namun kini, laki-laki itu pula yang membuatnya terhempas bagai debu yang tidak berharga sama sekali.
            “Apa yang nggak aku kasih untuk kamu? Semua hal sudah aku gadaikan untuk kamu,” hardik laki-laki di hadapannya. Membuat dada Kila semakin sesak dan penuh. Nyeri hatinya tak terelakkan lagi. Bagai disayat-sayat dengan sempurna. Perih menyelubungi hatinya kini. Bagaimana bisa laki-laki yang amat dicintainya membentaknya dengan kasar. Bahkan mendaratkan satu pukulan keras di wajahnya.
            “Cukup, Mas. Cukup. Aku mau pulang sekarang,” ucap Kila dengan lirih disertai isaknya yang tak kunjung reda. Roy menghela nafas panjang.
            “Oke, Dear. Aku minta maaf. Kamu mengenal aku dengan baik. Aku memang bukan tipe orang yang lembut. Tapi aku sayang kamu.”
            “Aku mau pulang, Mas. Sekarang!” Kila masih menangis. Alunan music jazz romantis tak lagi dapat mengobati luka hatinya dengan cepat. Kata-kata Roy terlalu menyakitkan untuk sekedar dicerna. Makanan mewah yang terlanjur dipesan, tak lagi membuat Kila selera. Yang diinginkannya kini hanya pulang dan meringkuk di atas tempat tidurnya untuk menghayati rasa sakit yang kian dalam kini. Roy mencoba meraih tubuh mungil Kila. Kila berontak. Tangisnya justeru semakin terdengar. Roy kembali menghela nafas panjang. Dia mengalah dan mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang yang kemudian dia letakkan di samping bill makanan yang ada di atas meja.
            “Oke, kita pulang sekarang,” Roy mencoba menggamit tangan Kila. Namun dengan cepat Kila menepis tangan Roy. Kini mereka berjalan melangkah berdua bagai sepasang orang asing yang tak saling mengenal.

***

            “Ada masalah apa?” Dela mondar-mandir di kamar Kila. Lima belas menit yang lalu dia sampai di kamar Kila setelah sahabatnya itu menelponnya. Kila memang sudah memutuskan untuk pulang ke apartemennya, bukan ke rumah Roy, untuk sementara.
            “Aku sedih, Del.”
            “Roy lagi?” Dela terlihat sendu. Dia mengambil posisi di samping Kila.
            “Aku sangat cinta dia, Del.”
            “Masalahnya apa?” Bisik Dela serius.
            “Aku baik-baik aja kok. Aku cuma lagi pengen nangis!” ucap Kila dengan lirih.        “Apa semua pengantin baru seperti itu? Aku jadi takut menikah.”
Dela merebahkan tubuhnya di samping Kila. Mata Kila mulai memanas. Siapa sangka suami yang sangat dicintainya itu sangat ringan tangan. Itu membuat Kila merasakan sakit tidak hanya secara lahir. Tapi juga bathin. Untung Kila memiliki apartemen sendiri untuk menenangkan diri. Dan menutupi lukanya sendiri dengan sempurna. Poni panjangnya membuat memar di mata kanannya tak terbaca oleh Dela. Dan dia sangat bersyukur.
            “Besok aku udah balik ke rumah Roy kok.” Tegas Kila di sela isak tangisnya.           “Yakin?”
Kila mengangguk mantap. Mungkin masih ada kesempatan untuk Roy.

***

            “Kamu itu memalukan, Kila. Sebagai ketua tim… seharusnya kamu tidak tertidur seperti tadi. Tadi kita meeting penting. Kamu mau iklan ini jatuh ke perusahaan lain?” Sebagai pegawai di salah satu Perusahaan Advertising yang cukup terkenal. Kinerja Kila memang tidak diragukan lagi. Banyak iklan yang jatuh ke perusahaannya karena ide-ide kreatifnya yang segar. Itu pula yang akhirnya menyebabkannya diangkat menjadi ketua tim. Kila hanya menunduk dalam. Dia memang salah dan tak dapat membela dirinya sedikitpun.
            “Saya tidak mau tahu. Besok… kamu harus pahami materi meetingnya. Dan iklan itu harus jatuh ke perusahaan kita.” Kila mengangguk cepat.
            “Saya minta maaf, Pak… saya memang salah.”
            “Ah sudahlah, Kila. Sebenarnya saya juga tidak ingin memarahi kamu. Tapi kamu memang harus ditegur kali ini. Tetaplah bekerja dengan baik. Kalau ada masalah, segera selesaikan. Jangan sampai mengganggu pekerjaanmu.”
            “Baik, Pak.” Kila tertegun sejenak, kemudian langsung berjalan menjauh dari bosnya itu, dia mengeluarkan blackberry-nya dan menelpon Roy untuk meminta dijemput sepulang kerja.

***

            “Roy, ada masalah apa sama Kila? Ceritalah…” Rajuk Dela sembari menyalakan rokoknya dan kemudian menghisapnya. Roy meneguk capucinno hangatnya. Hari ini mereka bertemu untuk sarapan bersama. Ritual yang menjadi keharusan bagi mereka berdua untuk setiap pagi. Roy menggelengkan kepalanya.
            “Penting ya?”
            “Iyalaaah… dia kan isteri kamu.”
            “Tapi aku sayangnya ke kamu.”
            “Tapi tetep kamu menikahi dia!” Dela tertawa getir sembari menghembuskan asap rokoknya dengan kuat.
            “Del, please… kamu tahu kalo aku sayangnya sama kamu. Bukan Kila. Dia itu cengeng dan kekanak-kanakkan. Selalu menyalahkan aku dalam setiap hal,” Dela memegang bahu Roy dan bergelayut manja di tangannya. Roy tersenyum dan membelai halus rambut sebahu Dela. Roy sangat mencintai Dela. Hanya Dela yang dapat menenangkannya ketika kesehariannya benar-benar kacau. Justeru Kila wanita pertama yang dicintainya hanya dapat membuatnya tambah pusing dan pekerjaannya berantakan. Roy tak pernah habis pikir bahwa jalan cintanya akan serumit ini. Semua hanya karena Dela yang terlambat ia temui. Padahal Dela adalah sekretaris relasinya sendiri. Dela menatap dalam mata Roy. Handphone Roy berdering lantang. Kila. Dela memberi isyarat agar Roy mengangkatnya. Roy bangkit untuk menjauh. Beberapa menit kemudian dia kembali.
            “Kila minta maaf dan minta dijemput sepulang kerja,” ucap Roy pada Dela.
            “Jangan buat Kila sekarat, Roy.” Rajuk Dela pada Roy. Roy mengangguk ragu dengan perlahan.

***

“Jangan pernah pukul aku lagi, Mas,” bisik Kila lirih di telinga Roy begitu mereka sampai di rumah Roy. Jiwa Roy bergolak. Dia sangat menyesal telah memukul Kila. Roy membimbing Kila untuk duduk.
“Aku bukan anak kecil yang harus dipukul dulu baru mengerti. Cukup Mas bilang apa salah aku, maka akan aku perbaiki.”
“Aku minta maaf, Kila.”
“Ini maaf Mas yang ke berapa? Mas selalu meminta maaf setelah memukulku. Tapi itu nggak mengobati kalau Mas nggak berubah.” Kila sekuat tenaga menahan isaknya. Suaranya pun semakin parau.
Roy memeluk erat isteri yang sudah tak lagi dicintainya. Kila benar, tak seharusnya dia menyiksa Kila terus menerus. Luka menahun Kila akan membuat Roy semakin menyakiti dirinya sendiri. Dia sangat ingin menyudahi semuanya. Tapi apakah akan menyelesaikan semuanya? Kila begitu sabar menghadapi dirinya. Bahkan meski segala keburukannya membuat Kila sangat sakit, Kila tak pernah menjelek-jelekkannya kepada siapa pun. Kila juga tak mengadu apa pun kepada orang tuanya. Roy merasakan gamang yang luar biasa.
            “Gimana kalau kita pisah aja, Kila?”
            “Jangan sembarangan ngomong, Mas. Kita baru satu tahun menikah.”
            “Justeru mumpung masih satu tahun, Kila. Aku sangat tersiksa atas keadaan ini.”
            “Keadaan seperti apa, Mas?” airmata Kila mulai merebak begitu saja. Dia gagal menjadi wanita yang tangguh.
            “Ya, memukul kamu. Membuat kamu menangis. Membuat kamu sedih. Itu nyakitin juga untuk aku.” Roy menjelaskan dengan terbata.
            “Kalau begitu, jangan pukul aku. Jangan buat aku menangis. Jangan buat aku bersedih.”
            Roy menjambak rambutnya sendiri. Dia kembali memeluk Kila erat.
            “Tidur gih. Besok baru kita obrolin lagi. Aku mau keluar sebentar.”
            Kila terisak sempurna. Dia merasakan bahwa memang rumah tangganya tak terselamatkan lagi. Dia tak dapat mempertahankan Roy, laki-laki yang sangat dicintainya. Roy bangkit dan berlalu. Dia ingin segera meringkuk di pelukan Dela untuk meredam sakitnya.
Kila masih tergugu di ruangan yang sangat luas itu. Ruangan mewah yang didominasi oleh lampu kristal bergaya Prancis murni. Roy sengaja membelikan Kila rumah ini karena Kila sangat mencintai beberapa sudut dalam rumah ini yang bernuansa romantis. Mengenang itu justeru membuat hatinya semakin tercabik. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada suaminya itu? Seolah Kila tak lagi mengenal Roy yang dulu menggamit jemarinya lembut untuk menanyakan maukah Kila menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya. Sesak.
Hingga akhirnya Kila bangkit dan berjalan dengan tersuruk menuju kamarnya. Dia ingin segera menekan dadanya kuat-kuat. Merepih perihnya sendiri. Begitu sampai di dalam kamar, Kila kaget ketika melihat sebuket mawar merah yang teronggok di atas kasur kamar tidurnya. Apakah Roy yang meletakkannya? Kila buru-buru menyambar bunga tersebut. Dan terhuyung begitu membaca suratnya.


Dear Roy
Mungkin jika kamu membaca surat ini, aku sudah terbang ke LA. Biar aku yang pergi. Jaga Kila baik-baik. Love you.
Love Dela

Kila menyeka air matanya kasar. Tangannya gemetar memegang surat itu. Semuanya terasa sangat gelap dan mengabur. ---

 *penulis adalah mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Pelangi Tarbiyah

Mengenal Sejarah Taman Sari Gua Sunyaragi Cirebon


Mengenal Sejarah Taman Sari Gua Sunyaragi Cirebon

PMII Rayon Pelangi Tarbiyah di Taman Sari Gua Sunyaragi Cirebon

Minggu pagi (17/06), PMII Rayon Pelangi Tarbiyah mengadakan observasi sederhana (miniresearch) di Taman Sari Gua Sunyragi Cirebon. Kegiatan ini diikuti sekitar lima belas mahasiswa-mahasiswi yang tergabung dalam organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Kegiatan ini merupakan salah satu agenda yang dilakukan oleh PMII Rayon Pelangi Tarbiyah. Kegiatan ini pula bertujuan agar para sahabat-sahabati untuk dapat mengenal lebih jauh mengenai sejarah monumen-monumen yang berada di Cirebon.
Tim Observasi sedang mencatat penjelasan guide
Wildan Ibnu Walid, selaku Ketua Umum Rayon Pelangi Tarbiyah mengatakan bahwa tujuan mengadakan miniresearch ini untuk menambah wawasan tentang kearifan budaya lokal yang ada di Cirebon, “Tak jarang mahasiswa-mahasiswi ataupun warga Cirebonnya sendiri pun kurang mengenal sejarah monumen-monumen yang berada di Cirebon, sehingga sejarah itu tenggelam dengan sendirinya dimakan waktu.”
Ia pun menambahkan dengan mengadakan observasi sederhana ini, mahasiswa paham mengenai sejarah monumen-monumen yang berada di Cirebon, “Hal ini akan menjadi tahap awal bahwa kita bangga dan sebuah penghormatan besar terhadap peradaban sebelum kita yang telah tinggal di Cirebon (Keraton Kanoman, Keraton Kesepuhan, Keraton Kacirebonan, Gua Sunyaragi, Sunan Gunung Jati, dll).”

Taman Sari Gua Sunyaragi
Dalam pelaksanaan penelitian ini, para sahabat kader PMII Rayon Pelangi Tarbiyah didampingi oleh pemandu (guide) yang bernama Yusuf. Beliau menjelaskan secara satu persatu bangunan-bangunan yang berada didalam Taman Sari Gua Sunyaragi.
“Taman Sari Gua Sunyaragi terletak di Kota Cirebon, taman merupakan bagian dari taman Keraton Kesepuhan. Taman ini dibangun pada tahun 1536 yang diutus oleh Sunan Gunung Jati. Bangunan ini dibangun menggunakan batu karang yang berasal dari Cina. Sehingga keistimewaan dari Taman ini adalah satu-satunya bangunan di dunia yang dibangun menggunakan batu karang. Oleh karena itu kita harus bangga mempunyai peninggalan Taman Sari Gua Sunyaragi,” terang Yusuf sembari menunjukkan lokasi-lokasi gua yang ada di Taman Sari Gua Sunyaragi. “Berikut ini bangunan-bangunan yang terdapat didalam Taman Sari Gua Sunyaragi; Bangsal Jinem, Gua Simanyang, Balai Beling, Gua Peteng, Gua Pawon, Gua Lengse, Bale Kambang, Gua Arja Jumut, Panggung Seni Budaya, Monument China, Gua Kelanggengan, Gapura dan Gua Lawa,” tambahnya.

“Pada tahun 1536, disebelah barat taman tersebut adalah hutan jati namun kini sudah dibangun perumahan-perumahan sebagai tempat tinggal warga setempat. Disebelah timur taman tersebut adalah danau, namun kini danau tersebut telah dijadikan jalan raya. Sehingga Taman tersebut terletak ditengah-tengah antara hutan jati dan danau,” ungkapnya.
Proses pembuatan Taman Sari Gua Sunyaragi lebih lama dibandingkan dengan pembuatan Keraton Kesepuhannya itu sendiri, “Taman tersebut menggunakan bahan dasar batu karang. Sehingga Sunan Gunung Jati wafat dan digantikan oleh Cicit Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Mas Muhammad Arifin II,” pungkasnya. (Kelas Sastra Budaya PMII Rayon Pelangi Tarbiyah)

Kilas Sejarah PMII


Kilas Sejarah

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan salah satu elemen mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik. Berdirinya PMII bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiwa NU untuk mendirikan organisasi mahasiwa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah.  Pada awal berdirinya PMII sepenuhnya berada dibawah naungan NU. PMII terikat dengan segala garis kebijaksanaan partai induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. Namun, pada 14 Juli 1971 melalui mubes di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun. Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan background, pada hakekat keduanya susah untuk direnggangkan.