Kamis, 05 Juli 2012

KEBOBROKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA


KEBOBROKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Oleh: Masrur*


Mencontek : Salah satu kebobrokan Pendidikan di Indonesia
Salam sejahtera buat kita semua, sahabat mahasiswa kali ini mencoba menulis sebuah kajian keilmuan dalam ranah pendidikan yang diambil dari pengalaman empiris yang dijadikan metode untuk menganalisis sebuah fenomena yang terjadi di sekitar kita khususnya dalam aspek ketarbiyahan, ketarbiyahan atau pendidikan merupakan suatu hal yang mesti kita pahami baik secara arti maupun orientasi. sehingga tidak mengalami disorientasi dalam mengaktualisasikannya.
Melalui diskusi rutin bersama sahabat-sahabat PMII Rayon Pelangi Tarbiyah adalah sebuah pangalaman yang mengasikkan dan mengahasilkan sebuah ilmu yang bermanfaat. Selaku kaum cendikiawan muda, menggali sebuah ilmu pengetahuan melalui diskusi yang bebas akan menumbuhkan sikap solidaritas yang amat kuat, dan menumbuhkan kesadaran kritis. baik kritis secara intelektual maupun kritis secara emosional dan spiritual. Sacangkir kopi, makanan ringan menjadi teman akrab dalam diskusi. sahabat-sahabati yang elok dalam beragumen tanpa adanya pembatasan dalam berpikir secara bebas mengeksplorasi pemikirannya dalam menjawab persoalan yang sedang terjadi di realita kehidupan masyarakat (belajar memahami sebuah arti kehidupan). itulah yang dinamakan proses belajar memanusiakan manusia (humanistik) yang mengahargai citra dan fitrah manusia.
Kata “pendidikan” dalam pandangan penulis adalah sebagai “aset bangsa” yang paling berharga. Tanggal 2 Mei adalah merupakan sebuah peringatan monumental di seantero jagad Nusantara, pada tanggal itu masyarakat Indonesia (dari Sabang sampai Merauke) merayakan hari pendidikan nasional, seakan ingin menegaskan bahwa pendidikan benar-benar adalah modal besar untuk membangun negeri ini. Namun sangat disayangkan dengan apa yang terjadi di lapangan sangat kontradiktif, bahkan ironis, pendidikan yang semula diharapkan mejadi bekal buat membangun masyarakat Indonesia baru yang tercerahkan, justru sebaliknya, menjadi cobaan yang justru membuat bangsa ini kian terpuruk lebih dalam.
Bukan tanpa sebab bila kondisi dunia pendidikan amatlah memprihatinkan. Ada banyak hal yang membuat pendidikan melenceng semakin jauh dari cita-cita idealnya sebagai wahana pembebasan dan pemberdayaan. Penulis menyoroti dua persoalan yang laten dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pertama, kecederungan pendidikan kita yang semakin elitis  dan tak terjangkau oleh rakyat miskin. Dalam hal ini pemerintah banyak melahirkan kebijakan diskriminatif yang justru menyulitkan akses rakyat miskin ke pendidikan. Kedua, Manajemen pendidikan yang birokratis dan hegemonik. Sistem pendidikan yang ada saat ini bukanlah yang memberdayakan dan populis. Terbukti, berbagai kebijakan yang lahir tidak mendukung terwujudnya pendidikan yang emansipatoris karena kebijakan tersebut lahir semata-mata untuk mendukung status quo dan memapankan kesenjangan sosial.
Bertolak dari kegelisahan itulah, melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada pembaca yang budiman untuk mereflesikan ulang terhadap kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Di sini secara bertahap, proses pencarian untuk  mengulas banyak hal yang menjadi pertayaan besar sekaligus “perkerjaan rumah” dalam pendidikan nasional, dari soal anggaran, nasib guru yang kian tak menentu, harapan dan pesemisme terhadap reformasi pendidikan, sampai pada paradigma pendidikan yang membebaskan, bukan sistem pendidikan yang memperbudak. Persoalan-persoalan inilah yang berimplikasi pada dunia pendidikan kita sehingga terus-menerus mengalami involusi. Pendidikan berjalan ditempat, tadak ada kemajuan berarti.
Disorientasi sekarang sedang terjadi dalam dunia pendidikan nasional, hal ini disebabkan adanya intervensi dari kalangan yang tidak bertangungjawab, demi mendapatkan keuntungan pribadinya tanpa memikirkan citra dan fitrah manusia sebagai insan yang merdeka, pendidikan orang dewasa hanyalah sebatas simbol yang ada dalam dunia pendidikan kita saat ini. Pendidikan adalah suatu hal yang mulia. Tetapi di dunia yang semakin kapitalis ini, pendidikan terlibat dengan kepentingan politik dan ekonomi (kapitalisasi pendidikan). maka dari itu, ada hal yang perlu disoroti secara khusus seperti: adanya malpraktik pendidikan pada tingkat kebijakan yang marak terutama setelah bergulirnya otonomi daerah. Bentuk-bentuk malpraktik itu adalah korupsi yang semakin tinggi dari pusat sampai daerah. Ketidakpedulian para penguasa terhadap nasib guru dan anak didik. Maraknya pungutan liar (pungli) dan lain sebagainya, menambah daftar panjang kebobrokan sistem pendidikan di Indonesia.
Sahabat-sahabat mahasiswa, mari kita bersama-sama membenahi sistem pendidikan nasional. Diawali dengan diri kita sendiri, kita reflesikan dan tancapkan di dalam hati bahwa pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan yang berarti, mengerahkan segala daya dan upaya untuk menumbuhkan budi pekerti, mengoptimalkan potensi emosional (karakter, moral), potensi intelektual dan potensi sosial. Wallahu ‘Alam bishawaab.

* Penulis adalah Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan Aktivis PMII Rayon Pelangi Tarbiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar