KEBOBROKAN PENDIDIKAN
DI INDONESIA
Oleh: Masrur*
![]() |
| Mencontek : Salah satu kebobrokan Pendidikan di Indonesia |
Salam
sejahtera buat kita semua, sahabat mahasiswa kali ini mencoba menulis sebuah
kajian keilmuan dalam ranah pendidikan yang diambil dari pengalaman empiris
yang dijadikan metode untuk menganalisis sebuah fenomena yang terjadi di sekitar
kita khususnya dalam aspek ketarbiyahan, ketarbiyahan atau pendidikan merupakan
suatu hal yang mesti kita pahami baik secara arti maupun orientasi. sehingga
tidak mengalami disorientasi dalam mengaktualisasikannya.
Melalui
diskusi rutin bersama sahabat-sahabat PMII Rayon Pelangi Tarbiyah adalah sebuah
pangalaman yang mengasikkan dan mengahasilkan sebuah ilmu yang bermanfaat. Selaku
kaum cendikiawan muda, menggali sebuah ilmu pengetahuan melalui diskusi yang
bebas akan menumbuhkan sikap solidaritas yang amat kuat, dan menumbuhkan
kesadaran kritis. baik kritis secara intelektual maupun kritis secara emosional
dan spiritual. Sacangkir kopi, makanan ringan menjadi teman akrab dalam
diskusi. sahabat-sahabati yang elok dalam beragumen tanpa adanya pembatasan
dalam berpikir secara bebas mengeksplorasi pemikirannya dalam menjawab persoalan
yang sedang terjadi di realita kehidupan masyarakat (belajar memahami sebuah arti
kehidupan). itulah yang dinamakan proses belajar memanusiakan manusia
(humanistik) yang mengahargai citra dan fitrah manusia.
Kata
“pendidikan” dalam pandangan penulis adalah sebagai “aset bangsa” yang paling
berharga. Tanggal 2 Mei adalah merupakan sebuah peringatan monumental di
seantero jagad Nusantara, pada tanggal itu masyarakat Indonesia (dari Sabang
sampai Merauke) merayakan hari pendidikan nasional, seakan ingin menegaskan
bahwa pendidikan benar-benar adalah modal besar untuk membangun negeri ini.
Namun sangat disayangkan dengan apa yang terjadi di lapangan sangat
kontradiktif, bahkan ironis, pendidikan yang semula diharapkan mejadi bekal
buat membangun masyarakat Indonesia baru yang tercerahkan, justru sebaliknya,
menjadi cobaan yang justru membuat bangsa ini kian terpuruk lebih dalam.
Bukan
tanpa sebab bila kondisi dunia pendidikan amatlah memprihatinkan. Ada banyak
hal yang membuat pendidikan melenceng semakin jauh dari cita-cita idealnya
sebagai wahana pembebasan dan pemberdayaan. Penulis menyoroti dua persoalan
yang laten dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pertama, kecederungan
pendidikan kita yang semakin elitis dan
tak terjangkau oleh rakyat miskin. Dalam hal ini pemerintah banyak melahirkan
kebijakan diskriminatif yang justru menyulitkan akses rakyat miskin ke
pendidikan. Kedua, Manajemen pendidikan yang birokratis dan hegemonik. Sistem
pendidikan yang ada saat ini bukanlah yang memberdayakan dan populis. Terbukti,
berbagai kebijakan yang lahir tidak mendukung terwujudnya pendidikan yang
emansipatoris karena kebijakan tersebut lahir semata-mata untuk mendukung
status quo dan memapankan kesenjangan sosial.
Bertolak
dari kegelisahan itulah, melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada pembaca
yang budiman untuk mereflesikan ulang terhadap kondisi pendidikan di Indonesia
saat ini. Di sini secara bertahap, proses pencarian untuk mengulas banyak hal yang menjadi pertayaan
besar sekaligus “perkerjaan rumah” dalam pendidikan nasional, dari soal
anggaran, nasib guru yang kian tak menentu, harapan dan pesemisme terhadap
reformasi pendidikan, sampai pada paradigma pendidikan yang membebaskan, bukan
sistem pendidikan yang memperbudak. Persoalan-persoalan inilah yang berimplikasi
pada dunia pendidikan kita sehingga terus-menerus mengalami involusi.
Pendidikan berjalan ditempat, tadak ada kemajuan berarti.
Disorientasi
sekarang sedang terjadi dalam dunia pendidikan nasional, hal ini disebabkan
adanya intervensi dari kalangan yang tidak bertangungjawab, demi mendapatkan
keuntungan pribadinya tanpa memikirkan citra dan fitrah manusia sebagai insan
yang merdeka, pendidikan orang dewasa hanyalah sebatas simbol yang ada dalam
dunia pendidikan kita saat ini. Pendidikan adalah suatu hal yang mulia. Tetapi
di dunia yang semakin kapitalis ini, pendidikan terlibat dengan kepentingan
politik dan ekonomi (kapitalisasi pendidikan). maka dari itu, ada hal yang
perlu disoroti secara khusus seperti: adanya malpraktik pendidikan pada tingkat
kebijakan yang marak terutama setelah bergulirnya otonomi daerah. Bentuk-bentuk
malpraktik itu adalah korupsi yang semakin tinggi dari pusat sampai daerah. Ketidakpedulian
para penguasa terhadap nasib guru dan anak didik. Maraknya pungutan liar
(pungli) dan lain sebagainya, menambah daftar panjang kebobrokan sistem
pendidikan di Indonesia.
Sahabat-sahabat
mahasiswa, mari kita bersama-sama membenahi sistem pendidikan nasional. Diawali
dengan diri kita sendiri, kita reflesikan dan tancapkan di dalam hati bahwa pendidikan
adalah sebuah proses pendewasaan yang berarti, mengerahkan segala daya dan
upaya untuk menumbuhkan budi pekerti, mengoptimalkan potensi emosional
(karakter, moral), potensi intelektual dan potensi sosial. Wallahu ‘Alam
bishawaab.
* Penulis
adalah Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan Aktivis PMII Rayon Pelangi
Tarbiyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar