Kamis, 05 Juli 2012

SEPUCUK SURAT BERWARNA PINK


SEPUCUK SURAT BERWARNA PINK
Oleh : Euis Nelly Sa’adah*

            “Aku memang nggak pernah ada artinya untukmu, Mas,” ucap Kila sembari tersedu di hadapan laki-laki yang sangat disayanginya. Laki-laki yang sudah hampir setahun menjadi imam dalam hidupnya. Namun kini, laki-laki itu pula yang membuatnya terhempas bagai debu yang tidak berharga sama sekali.
            “Apa yang nggak aku kasih untuk kamu? Semua hal sudah aku gadaikan untuk kamu,” hardik laki-laki di hadapannya. Membuat dada Kila semakin sesak dan penuh. Nyeri hatinya tak terelakkan lagi. Bagai disayat-sayat dengan sempurna. Perih menyelubungi hatinya kini. Bagaimana bisa laki-laki yang amat dicintainya membentaknya dengan kasar. Bahkan mendaratkan satu pukulan keras di wajahnya.
            “Cukup, Mas. Cukup. Aku mau pulang sekarang,” ucap Kila dengan lirih disertai isaknya yang tak kunjung reda. Roy menghela nafas panjang.
            “Oke, Dear. Aku minta maaf. Kamu mengenal aku dengan baik. Aku memang bukan tipe orang yang lembut. Tapi aku sayang kamu.”
            “Aku mau pulang, Mas. Sekarang!” Kila masih menangis. Alunan music jazz romantis tak lagi dapat mengobati luka hatinya dengan cepat. Kata-kata Roy terlalu menyakitkan untuk sekedar dicerna. Makanan mewah yang terlanjur dipesan, tak lagi membuat Kila selera. Yang diinginkannya kini hanya pulang dan meringkuk di atas tempat tidurnya untuk menghayati rasa sakit yang kian dalam kini. Roy mencoba meraih tubuh mungil Kila. Kila berontak. Tangisnya justeru semakin terdengar. Roy kembali menghela nafas panjang. Dia mengalah dan mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang yang kemudian dia letakkan di samping bill makanan yang ada di atas meja.
            “Oke, kita pulang sekarang,” Roy mencoba menggamit tangan Kila. Namun dengan cepat Kila menepis tangan Roy. Kini mereka berjalan melangkah berdua bagai sepasang orang asing yang tak saling mengenal.

***

            “Ada masalah apa?” Dela mondar-mandir di kamar Kila. Lima belas menit yang lalu dia sampai di kamar Kila setelah sahabatnya itu menelponnya. Kila memang sudah memutuskan untuk pulang ke apartemennya, bukan ke rumah Roy, untuk sementara.
            “Aku sedih, Del.”
            “Roy lagi?” Dela terlihat sendu. Dia mengambil posisi di samping Kila.
            “Aku sangat cinta dia, Del.”
            “Masalahnya apa?” Bisik Dela serius.
            “Aku baik-baik aja kok. Aku cuma lagi pengen nangis!” ucap Kila dengan lirih.        “Apa semua pengantin baru seperti itu? Aku jadi takut menikah.”
Dela merebahkan tubuhnya di samping Kila. Mata Kila mulai memanas. Siapa sangka suami yang sangat dicintainya itu sangat ringan tangan. Itu membuat Kila merasakan sakit tidak hanya secara lahir. Tapi juga bathin. Untung Kila memiliki apartemen sendiri untuk menenangkan diri. Dan menutupi lukanya sendiri dengan sempurna. Poni panjangnya membuat memar di mata kanannya tak terbaca oleh Dela. Dan dia sangat bersyukur.
            “Besok aku udah balik ke rumah Roy kok.” Tegas Kila di sela isak tangisnya.           “Yakin?”
Kila mengangguk mantap. Mungkin masih ada kesempatan untuk Roy.

***

            “Kamu itu memalukan, Kila. Sebagai ketua tim… seharusnya kamu tidak tertidur seperti tadi. Tadi kita meeting penting. Kamu mau iklan ini jatuh ke perusahaan lain?” Sebagai pegawai di salah satu Perusahaan Advertising yang cukup terkenal. Kinerja Kila memang tidak diragukan lagi. Banyak iklan yang jatuh ke perusahaannya karena ide-ide kreatifnya yang segar. Itu pula yang akhirnya menyebabkannya diangkat menjadi ketua tim. Kila hanya menunduk dalam. Dia memang salah dan tak dapat membela dirinya sedikitpun.
            “Saya tidak mau tahu. Besok… kamu harus pahami materi meetingnya. Dan iklan itu harus jatuh ke perusahaan kita.” Kila mengangguk cepat.
            “Saya minta maaf, Pak… saya memang salah.”
            “Ah sudahlah, Kila. Sebenarnya saya juga tidak ingin memarahi kamu. Tapi kamu memang harus ditegur kali ini. Tetaplah bekerja dengan baik. Kalau ada masalah, segera selesaikan. Jangan sampai mengganggu pekerjaanmu.”
            “Baik, Pak.” Kila tertegun sejenak, kemudian langsung berjalan menjauh dari bosnya itu, dia mengeluarkan blackberry-nya dan menelpon Roy untuk meminta dijemput sepulang kerja.

***

            “Roy, ada masalah apa sama Kila? Ceritalah…” Rajuk Dela sembari menyalakan rokoknya dan kemudian menghisapnya. Roy meneguk capucinno hangatnya. Hari ini mereka bertemu untuk sarapan bersama. Ritual yang menjadi keharusan bagi mereka berdua untuk setiap pagi. Roy menggelengkan kepalanya.
            “Penting ya?”
            “Iyalaaah… dia kan isteri kamu.”
            “Tapi aku sayangnya ke kamu.”
            “Tapi tetep kamu menikahi dia!” Dela tertawa getir sembari menghembuskan asap rokoknya dengan kuat.
            “Del, please… kamu tahu kalo aku sayangnya sama kamu. Bukan Kila. Dia itu cengeng dan kekanak-kanakkan. Selalu menyalahkan aku dalam setiap hal,” Dela memegang bahu Roy dan bergelayut manja di tangannya. Roy tersenyum dan membelai halus rambut sebahu Dela. Roy sangat mencintai Dela. Hanya Dela yang dapat menenangkannya ketika kesehariannya benar-benar kacau. Justeru Kila wanita pertama yang dicintainya hanya dapat membuatnya tambah pusing dan pekerjaannya berantakan. Roy tak pernah habis pikir bahwa jalan cintanya akan serumit ini. Semua hanya karena Dela yang terlambat ia temui. Padahal Dela adalah sekretaris relasinya sendiri. Dela menatap dalam mata Roy. Handphone Roy berdering lantang. Kila. Dela memberi isyarat agar Roy mengangkatnya. Roy bangkit untuk menjauh. Beberapa menit kemudian dia kembali.
            “Kila minta maaf dan minta dijemput sepulang kerja,” ucap Roy pada Dela.
            “Jangan buat Kila sekarat, Roy.” Rajuk Dela pada Roy. Roy mengangguk ragu dengan perlahan.

***

“Jangan pernah pukul aku lagi, Mas,” bisik Kila lirih di telinga Roy begitu mereka sampai di rumah Roy. Jiwa Roy bergolak. Dia sangat menyesal telah memukul Kila. Roy membimbing Kila untuk duduk.
“Aku bukan anak kecil yang harus dipukul dulu baru mengerti. Cukup Mas bilang apa salah aku, maka akan aku perbaiki.”
“Aku minta maaf, Kila.”
“Ini maaf Mas yang ke berapa? Mas selalu meminta maaf setelah memukulku. Tapi itu nggak mengobati kalau Mas nggak berubah.” Kila sekuat tenaga menahan isaknya. Suaranya pun semakin parau.
Roy memeluk erat isteri yang sudah tak lagi dicintainya. Kila benar, tak seharusnya dia menyiksa Kila terus menerus. Luka menahun Kila akan membuat Roy semakin menyakiti dirinya sendiri. Dia sangat ingin menyudahi semuanya. Tapi apakah akan menyelesaikan semuanya? Kila begitu sabar menghadapi dirinya. Bahkan meski segala keburukannya membuat Kila sangat sakit, Kila tak pernah menjelek-jelekkannya kepada siapa pun. Kila juga tak mengadu apa pun kepada orang tuanya. Roy merasakan gamang yang luar biasa.
            “Gimana kalau kita pisah aja, Kila?”
            “Jangan sembarangan ngomong, Mas. Kita baru satu tahun menikah.”
            “Justeru mumpung masih satu tahun, Kila. Aku sangat tersiksa atas keadaan ini.”
            “Keadaan seperti apa, Mas?” airmata Kila mulai merebak begitu saja. Dia gagal menjadi wanita yang tangguh.
            “Ya, memukul kamu. Membuat kamu menangis. Membuat kamu sedih. Itu nyakitin juga untuk aku.” Roy menjelaskan dengan terbata.
            “Kalau begitu, jangan pukul aku. Jangan buat aku menangis. Jangan buat aku bersedih.”
            Roy menjambak rambutnya sendiri. Dia kembali memeluk Kila erat.
            “Tidur gih. Besok baru kita obrolin lagi. Aku mau keluar sebentar.”
            Kila terisak sempurna. Dia merasakan bahwa memang rumah tangganya tak terselamatkan lagi. Dia tak dapat mempertahankan Roy, laki-laki yang sangat dicintainya. Roy bangkit dan berlalu. Dia ingin segera meringkuk di pelukan Dela untuk meredam sakitnya.
Kila masih tergugu di ruangan yang sangat luas itu. Ruangan mewah yang didominasi oleh lampu kristal bergaya Prancis murni. Roy sengaja membelikan Kila rumah ini karena Kila sangat mencintai beberapa sudut dalam rumah ini yang bernuansa romantis. Mengenang itu justeru membuat hatinya semakin tercabik. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada suaminya itu? Seolah Kila tak lagi mengenal Roy yang dulu menggamit jemarinya lembut untuk menanyakan maukah Kila menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya. Sesak.
Hingga akhirnya Kila bangkit dan berjalan dengan tersuruk menuju kamarnya. Dia ingin segera menekan dadanya kuat-kuat. Merepih perihnya sendiri. Begitu sampai di dalam kamar, Kila kaget ketika melihat sebuket mawar merah yang teronggok di atas kasur kamar tidurnya. Apakah Roy yang meletakkannya? Kila buru-buru menyambar bunga tersebut. Dan terhuyung begitu membaca suratnya.


Dear Roy
Mungkin jika kamu membaca surat ini, aku sudah terbang ke LA. Biar aku yang pergi. Jaga Kila baik-baik. Love you.
Love Dela

Kila menyeka air matanya kasar. Tangannya gemetar memegang surat itu. Semuanya terasa sangat gelap dan mengabur. ---

 *penulis adalah mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Pelangi Tarbiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar