SEPUCUK
SURAT BERWARNA PINK
Oleh
: Euis Nelly Sa’adah*
“Aku
memang nggak pernah ada artinya untukmu, Mas,” ucap Kila sembari tersedu di
hadapan laki-laki yang sangat disayanginya. Laki-laki yang sudah hampir setahun
menjadi imam dalam hidupnya. Namun kini, laki-laki itu pula yang membuatnya
terhempas bagai debu yang tidak berharga sama sekali.
“Apa
yang nggak aku kasih untuk kamu? Semua hal sudah aku gadaikan untuk kamu,”
hardik laki-laki di hadapannya. Membuat dada Kila semakin sesak dan penuh.
Nyeri hatinya tak terelakkan lagi. Bagai disayat-sayat dengan sempurna. Perih
menyelubungi hatinya kini. Bagaimana bisa laki-laki yang amat dicintainya
membentaknya dengan kasar. Bahkan mendaratkan satu pukulan keras di wajahnya.
“Cukup,
Mas. Cukup. Aku mau pulang sekarang,” ucap Kila dengan lirih disertai isaknya
yang tak kunjung reda. Roy menghela nafas panjang.
“Oke,
Dear. Aku minta maaf. Kamu mengenal
aku dengan baik. Aku memang bukan tipe orang yang lembut. Tapi aku sayang
kamu.”
“Aku
mau pulang, Mas. Sekarang!” Kila masih menangis. Alunan music jazz romantis tak lagi dapat mengobati luka hatinya dengan
cepat. Kata-kata Roy terlalu menyakitkan untuk sekedar dicerna. Makanan mewah
yang terlanjur dipesan, tak lagi membuat Kila selera. Yang diinginkannya kini
hanya pulang dan meringkuk di atas tempat tidurnya untuk menghayati rasa sakit
yang kian dalam kini. Roy mencoba meraih tubuh mungil Kila. Kila berontak.
Tangisnya justeru semakin terdengar. Roy kembali menghela nafas panjang. Dia
mengalah dan mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang yang kemudian dia
letakkan di samping bill makanan yang ada di atas meja.
“Oke,
kita pulang sekarang,” Roy mencoba menggamit tangan Kila. Namun dengan cepat
Kila menepis tangan Roy. Kini mereka berjalan melangkah berdua bagai sepasang
orang asing yang tak saling mengenal.
***
“Ada masalah apa?” Dela
mondar-mandir di kamar Kila. Lima belas menit yang lalu dia sampai di kamar
Kila setelah sahabatnya itu menelponnya. Kila memang sudah memutuskan untuk
pulang ke apartemennya, bukan ke rumah Roy, untuk sementara.
“Aku sedih, Del.”
“Roy lagi?” Dela terlihat sendu. Dia
mengambil posisi di samping Kila.
“Aku sangat cinta dia, Del.”
“Masalahnya apa?” Bisik Dela serius.
“Aku baik-baik aja kok. Aku cuma lagi
pengen nangis!” ucap Kila dengan lirih. “Apa
semua pengantin baru seperti itu? Aku jadi takut menikah.”
Dela
merebahkan tubuhnya di samping Kila. Mata Kila mulai memanas. Siapa sangka
suami yang sangat dicintainya itu sangat ringan tangan. Itu membuat Kila
merasakan sakit tidak hanya secara lahir. Tapi juga bathin. Untung Kila
memiliki apartemen sendiri untuk menenangkan diri. Dan menutupi lukanya sendiri
dengan sempurna. Poni panjangnya membuat memar di mata kanannya tak terbaca
oleh Dela. Dan dia sangat bersyukur.
“Besok aku udah balik ke rumah Roy
kok.” Tegas Kila di sela isak tangisnya. “Yakin?”
Kila
mengangguk mantap. Mungkin masih ada kesempatan untuk Roy.
***
“Kamu itu memalukan, Kila. Sebagai
ketua tim… seharusnya kamu tidak tertidur seperti tadi. Tadi kita meeting penting. Kamu mau iklan ini
jatuh ke perusahaan lain?” Sebagai pegawai di salah satu Perusahaan Advertising
yang cukup terkenal. Kinerja Kila memang tidak diragukan lagi. Banyak iklan
yang jatuh ke perusahaannya karena ide-ide kreatifnya yang segar. Itu pula yang
akhirnya menyebabkannya diangkat menjadi ketua tim. Kila hanya menunduk dalam.
Dia memang salah dan tak dapat membela dirinya sedikitpun.
“Saya tidak mau tahu. Besok… kamu
harus pahami materi meetingnya. Dan
iklan itu harus jatuh ke perusahaan kita.” Kila mengangguk cepat.
“Saya minta maaf, Pak… saya memang
salah.”
“Ah sudahlah, Kila. Sebenarnya saya
juga tidak ingin memarahi kamu. Tapi kamu memang harus ditegur kali ini.
Tetaplah bekerja dengan baik. Kalau ada masalah, segera selesaikan. Jangan
sampai mengganggu pekerjaanmu.”
“Baik, Pak.” Kila tertegun sejenak,
kemudian langsung berjalan menjauh dari bosnya itu, dia mengeluarkan blackberry-nya dan menelpon Roy untuk
meminta dijemput sepulang kerja.
***
“Roy, ada masalah apa sama Kila?
Ceritalah…” Rajuk Dela sembari menyalakan rokoknya dan kemudian menghisapnya.
Roy meneguk capucinno hangatnya. Hari
ini mereka bertemu untuk sarapan bersama. Ritual yang menjadi keharusan bagi
mereka berdua untuk setiap pagi. Roy menggelengkan kepalanya.
“Penting ya?”
“Iyalaaah… dia kan isteri kamu.”
“Tapi aku sayangnya ke kamu.”
“Tapi tetep kamu menikahi dia!” Dela
tertawa getir sembari menghembuskan asap rokoknya dengan kuat.
“Del, please… kamu tahu kalo aku sayangnya sama kamu. Bukan Kila. Dia itu
cengeng dan kekanak-kanakkan. Selalu menyalahkan aku dalam setiap hal,” Dela
memegang bahu Roy dan bergelayut manja di tangannya. Roy tersenyum dan membelai
halus rambut sebahu Dela. Roy sangat mencintai Dela. Hanya Dela yang dapat
menenangkannya ketika kesehariannya benar-benar kacau. Justeru Kila wanita
pertama yang dicintainya hanya dapat membuatnya tambah pusing dan pekerjaannya
berantakan. Roy tak pernah habis pikir bahwa jalan cintanya akan serumit ini.
Semua hanya karena Dela yang terlambat ia temui. Padahal Dela adalah sekretaris
relasinya sendiri. Dela menatap dalam mata Roy. Handphone Roy berdering lantang. Kila. Dela memberi isyarat agar
Roy mengangkatnya. Roy bangkit untuk menjauh. Beberapa menit kemudian dia
kembali.
“Kila minta maaf dan minta dijemput
sepulang kerja,” ucap Roy pada Dela.
“Jangan buat Kila sekarat, Roy.”
Rajuk Dela pada Roy. Roy mengangguk ragu dengan perlahan.
***
“Jangan
pernah pukul aku lagi, Mas,” bisik Kila lirih di telinga Roy begitu mereka
sampai di rumah Roy. Jiwa Roy bergolak. Dia sangat menyesal telah memukul Kila.
Roy membimbing Kila untuk duduk.
“Aku
bukan anak kecil yang harus dipukul dulu baru mengerti. Cukup Mas bilang apa
salah aku, maka akan aku perbaiki.”
“Aku
minta maaf, Kila.”
“Ini
maaf Mas yang ke berapa? Mas selalu meminta maaf setelah memukulku. Tapi itu
nggak mengobati kalau Mas nggak berubah.” Kila sekuat tenaga menahan isaknya.
Suaranya pun semakin parau.
Roy
memeluk erat isteri yang sudah tak lagi dicintainya. Kila benar, tak seharusnya
dia menyiksa Kila terus menerus. Luka menahun Kila akan membuat Roy semakin
menyakiti dirinya sendiri. Dia sangat ingin menyudahi semuanya. Tapi apakah
akan menyelesaikan semuanya? Kila begitu sabar menghadapi dirinya. Bahkan meski
segala keburukannya membuat Kila sangat sakit, Kila tak pernah
menjelek-jelekkannya kepada siapa pun. Kila juga tak mengadu apa pun kepada
orang tuanya. Roy merasakan gamang yang luar biasa.
“Gimana kalau kita pisah aja, Kila?”
“Jangan sembarangan ngomong, Mas. Kita
baru satu tahun menikah.”
“Justeru mumpung masih satu tahun,
Kila. Aku sangat tersiksa atas keadaan ini.”
“Keadaan seperti apa, Mas?” airmata
Kila mulai merebak begitu saja. Dia gagal menjadi wanita yang tangguh.
“Ya, memukul kamu. Membuat kamu menangis.
Membuat kamu sedih. Itu nyakitin juga untuk aku.” Roy menjelaskan dengan
terbata.
“Kalau begitu, jangan pukul aku.
Jangan buat aku menangis. Jangan buat aku bersedih.”
Roy menjambak rambutnya sendiri. Dia
kembali memeluk Kila erat.
“Tidur gih. Besok baru kita obrolin
lagi. Aku mau keluar sebentar.”
Kila terisak sempurna. Dia merasakan
bahwa memang rumah tangganya tak terselamatkan lagi. Dia tak dapat
mempertahankan Roy, laki-laki yang sangat dicintainya. Roy bangkit dan berlalu.
Dia ingin segera meringkuk di pelukan Dela untuk meredam sakitnya.
Kila
masih tergugu di ruangan yang sangat luas itu. Ruangan mewah yang didominasi
oleh lampu kristal bergaya Prancis murni. Roy sengaja membelikan Kila rumah ini
karena Kila sangat mencintai beberapa sudut dalam rumah ini yang bernuansa
romantis. Mengenang itu justeru membuat hatinya semakin tercabik. Sebenarnya
apa yang telah terjadi pada suaminya itu? Seolah Kila tak lagi mengenal Roy
yang dulu menggamit jemarinya lembut untuk menanyakan maukah Kila menjadi
pendamping hidupnya untuk selamanya. Sesak.
Hingga
akhirnya Kila bangkit dan berjalan dengan tersuruk menuju kamarnya. Dia ingin
segera menekan dadanya kuat-kuat. Merepih perihnya sendiri. Begitu sampai di
dalam kamar, Kila kaget ketika melihat sebuket mawar merah yang teronggok di
atas kasur kamar tidurnya. Apakah Roy yang meletakkannya? Kila buru-buru
menyambar bunga tersebut. Dan terhuyung begitu membaca suratnya.
Dear Roy
Mungkin jika kamu membaca surat ini, aku sudah terbang ke
LA. Biar aku yang pergi. Jaga Kila baik-baik. Love you.
Love
Dela
Kila
menyeka air matanya kasar. Tangannya gemetar memegang surat itu. Semuanya terasa
sangat gelap dan mengabur. ---
*penulis adalah
mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII) Rayon Pelangi Tarbiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar