NAMANYA ADALAH PELANGI
wong Ganteng
Hari yang mendung, tampak dari
kejauhan berkilauan cahaya putih seperti menghampiriku, begitu cepatnya ia
namun ternyata dibelakang cahaya itu diikuti oleh suara gemuruh yang panjang,
ya!!! tepat memang ia adalah suara petir yang menyambar berlarian saling
berkejaran dengan lawannya sang kilat.
Aku tertegun
melihat pemandangan secara alamiah itu, dan telah tampak dikejauhan sana awan
putih mulai menemui titik terang, memberi celah pada sang raja siang untuk
menyinari bumi pertiwi ini. Awan, dia
hanya lah sebuah awan yang berwarna putih? Aku berfikir sejenak dalam keadaan yang
sedikit dingin.
Siapa ia
sesungguhnya? Tanyaku melalui khayalan yang mencengkram itu. Tugasnya sangat
berat seperti satpam penjaga bank. Membuka
dan menutup. Aku tak mengetahui secara
pasti apa yang ia buka dan apa yang ia tutup.
Hanya sepengetahuanku ketika awan membuka, raja siang bisa melihat
aktifitasku. Atau bahkan ia menurunkan
tetesan air hujan, kemudian setelah itu ia membuka pintu andalnnya untuk dilewati
cahaya matahari, namun dijalannan cahaya raja siang yang memberikan arti
kehidupan didunia itu bertabrakan dengan partikel air hujan yang diturunkan oleh
sang awan.
Aku ingi
menghampiri mereka yang tengah sibuk dengan keinginan mereka masing-masing. Tepatnya diantara mereka ingin terlebih dulu
mendapatkan jalan menuju tanah dibumi ini yang sudah sejak tadi mengeluarkan
bau terkena basahan air hujan.
“ kamu, jangan pernah
ingin mendahuluiku untuk mendapatkan tujuanku.” Terdengar suara itu dari
kejauhan sana ternyata sang air berbicara.
“ tidak!!! pasti aku yang
terlebih dahulu mendapatkan tujuanku, buktinya karena kamu transparan aku bisa
menduhulukan tubuhku untuk mencapai tujuanku.” Bantah sang cahaya, berebut
keinginan dengan air.
Terlintas sejenak
dibenakku untuk menghalau mereka. Untuk memisahkan mereka agar tidak saling
berebut seperti itu,
Tetapi mereka begitu tinggi untuk aku hampiri, lalu aku
berteriak memanggil mereka ”hey, jangan kekanak-kanakan! Jangan
bertengkar seperti itu. Tak ada gunanya kalian bertengkar seperti itu”
teriakan ku menjadi-jadi, tapi tak mendapatkan respon sedikitpun dari mereka.
Aku bersedih
dan bingung apa yang perlu ku lakukan untuk menghalau pertengkaran diantara
keduanya. Aku tak bisa berbuat apapun. Dan hanya satu yang kuharap dari mereka agar segera
mengakhiri perkelahian itu.
Beberapa saat kemudian, mereka saling
mengalahkan satu sama lainnya. Sang
cahaya dapat menembus beningnya partikel air begitu pula sebaliknya air. Ia dapat menembus cahaya, tapi begitu besarnya
kekuatan mereka masing-masing bahkan satu sama lain saling mendoorong untuk
mendapatkan tujuannya agar segera mancapai tepi.
“Mereka tak pernah memperdulikan aku”
bisikanku dalam hati. Mereka sungguh jahat terhadap ku. Aku yang sejak tadi ingin memecahkan keributan
mereka seolah tak ada gunanya. Aku mencoba menjerit namu tak berreaksi apa-apa.
Aku ingin sekali memijam kapal terbang
milik pamanku, dimana ia seorang pilot kapal terbang pesawat Garuda Indonesia. Kemudian akan kujadikan sebagai alat agar aku
bisa menghampiri mereka, untuk menyelesaikan pertengkarannya.
Namun itu bukanlah hal yang mudah, pamanku
pasti tak akan mngizinkan kapalnya dipinjam oleh anak kecil sepertiku. Aku
menagis, aku sedih melihat mereka yang tak berhenti saling dorong-mendorong.
Aku ingin memisahkan mereka. Air mataku berjatuhan membanjiri pipiku yang mulus
dan belum berjerawat itu. Aku tak menyadari jika sesungguhnya air mata yang
jatuh dipipiku berkarakteristik sama dengan partikel air yang sampai saat ini
masih saling dorong tak ada yang mau mengalah
dalam berebut tahta untuk mencapai tanah dibumi.
Aku segera
membersihkan air mata yang berlinangan itu. Dan kembali berteriak” woy,,,,, salah satu diantara kalian harus
mengalah. Jika tidak, kalian tak akan pernah bisa saling melewati.”Namun seperti biasa tak pernah ada jawaban yang
pasti dari mereka dan tak ada yang mengindahkan ku.
Ku tutup
mataku, seperti sinetron yang sering muncul ditelevisi. Dengan kekuatan
fikiran, dan dengan kekuatan hati, kita bisa menyalurkan frekuensi ucapan
ataupun bisikan hati kita melalui kekuatan tersebut, kembali aku berbicara “ aku memohon pada kalian berdua, tolonglah
kalian jangan seperti aku yang masih kekanak-kanakan berebut mainan milik
temanku yang lain, aku sangat mohon diantara kalian harus ada yang mengalah
” kata ku panjang lebar.
Segera kubuka
mataku, dan mereka menghasilakan sesuatu dari besarnya gaya dorong yang mereka
gunakan untuk saling berebut menuju tanah dibumi. Mereka menghasilkan warna
yang bervariasi dan indah membentuk setengah lingkaran.
Keinginanku
meminjam kapal terbang milik paman semakin mendalam. Ingin kuhampiri
mereka yang bisa memproduksi sesuatu yang indah. Merah, jingga, kuning hijau,
biru, nila, dan ungu, indahnya langit itu. Mereka mencari kelemahan lawan
masing-masing dan berakhir dengan menghasilkan perpaduan kekuatan dan mampu
membentuk warna-warni dilangit yang biru itu.
Aku bertanya pada ibu, yang baru saja
menghampiriku setelah mengambilkanku makan siang, “ibu, apa itu yang berwarna warni dilangit?” Tanya ku
“ itu namanya pelangi
sayang” jawab ibu tersenyum, sembari
menyuapiku makan.
Aku mengerti
sekarang, jika kita mampu membaca kelemahan lawan dan dapat memicu untuk
mendapatkan produktifitas hasil karya yang gemilang itu lebih baik dibandingkan
dengan selalu bersaing saling menjatuhkan tanpa diiringi dengan kreatifitas
yang bermutu.
Ibu memberikan
senyuman hangat ketika menyuapiku, sambil mendorong sepeda baru ku, yang dibelikan oleh ayah kemarin siang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar