Kamis, 24 Oktober 2013

NAMANYA ADALAH PELANGI
 wong Ganteng 
Hari yang mendung, tampak dari kejauhan berkilauan cahaya putih seperti menghampiriku, begitu cepatnya ia namun ternyata dibelakang cahaya itu diikuti oleh suara gemuruh yang panjang, ya!!! tepat memang ia adalah suara petir yang menyambar berlarian saling berkejaran dengan lawannya sang kilat.
            Aku tertegun melihat pemandangan secara alamiah itu, dan telah tampak dikejauhan sana awan putih mulai menemui titik terang, memberi celah pada sang raja siang untuk menyinari bumi pertiwi ini.  Awan, dia hanya lah sebuah awan yang berwarna putih?  Aku berfikir sejenak dalam keadaan yang sedikit dingin.
            Siapa ia sesungguhnya? Tanyaku melalui khayalan yang mencengkram itu. Tugasnya sangat berat seperti satpam penjaga bank.  Membuka dan menutup.  Aku tak mengetahui secara pasti apa yang ia buka dan apa yang ia tutup.  Hanya sepengetahuanku ketika awan membuka, raja siang bisa melihat aktifitasku.  Atau bahkan ia menurunkan tetesan air hujan, kemudian setelah itu ia membuka pintu andalnnya untuk dilewati cahaya matahari, namun dijalannan cahaya raja siang yang memberikan arti kehidupan didunia itu bertabrakan dengan partikel air hujan yang diturunkan oleh sang awan.
            Aku ingi menghampiri mereka yang tengah sibuk dengan keinginan mereka masing-masing.  Tepatnya diantara mereka ingin terlebih dulu mendapatkan jalan menuju tanah dibumi ini yang sudah sejak tadi mengeluarkan bau terkena basahan air hujan.
kamu, jangan pernah ingin mendahuluiku untuk mendapatkan tujuanku.” Terdengar suara itu dari kejauhan sana ternyata sang air berbicara.
tidak!!! pasti aku yang terlebih dahulu mendapatkan tujuanku, buktinya karena kamu transparan aku bisa menduhulukan tubuhku untuk mencapai tujuanku.” Bantah sang cahaya, berebut keinginan dengan air.
            Terlintas sejenak dibenakku untuk menghalau mereka. Untuk memisahkan mereka agar tidak saling berebut seperti itu,
Tetapi mereka begitu tinggi untuk aku hampiri, lalu aku berteriak memanggil mereka  ”hey, jangan kekanak-kanakan! Jangan bertengkar seperti itu. Tak ada gunanya kalian bertengkar seperti itu” teriakan ku menjadi-jadi, tapi tak mendapatkan respon sedikitpun dari mereka.
            Aku bersedih dan bingung apa yang perlu ku lakukan untuk menghalau pertengkaran diantara keduanya.  Aku tak bisa berbuat apapun.  Dan hanya satu yang kuharap dari mereka agar segera mengakhiri perkelahian itu.
Beberapa saat kemudian, mereka saling mengalahkan satu sama lainnya.  Sang cahaya dapat menembus beningnya partikel air begitu pula sebaliknya air.  Ia dapat menembus cahaya, tapi begitu besarnya kekuatan mereka masing-masing bahkan satu sama lain saling mendoorong untuk mendapatkan tujuannya agar segera mancapai tepi.
            “Mereka tak pernah memperdulikan aku” bisikanku dalam hati. Mereka sungguh jahat terhadap ku.  Aku yang sejak tadi ingin memecahkan keributan mereka seolah tak ada gunanya. Aku mencoba menjerit namu tak berreaksi apa-apa.  Aku ingin sekali memijam kapal terbang milik pamanku, dimana ia seorang pilot kapal terbang pesawat Garuda Indonesia.  Kemudian akan kujadikan sebagai alat agar aku bisa menghampiri mereka, untuk menyelesaikan pertengkarannya.
 Namun itu bukanlah hal yang mudah, pamanku pasti tak akan mngizinkan kapalnya dipinjam oleh anak kecil sepertiku. Aku menagis, aku sedih melihat mereka yang tak berhenti saling dorong-mendorong. Aku ingin memisahkan mereka. Air mataku berjatuhan membanjiri pipiku yang mulus dan belum berjerawat itu. Aku tak menyadari jika sesungguhnya air mata yang jatuh dipipiku berkarakteristik sama dengan partikel air yang sampai saat ini masih saling dorong tak ada yang mau mengalah  dalam berebut tahta untuk mencapai tanah dibumi.
            Aku segera membersihkan air mata yang berlinangan itu. Dan kembali berteriak” woy,,,,, salah satu diantara kalian harus mengalah. Jika tidak, kalian tak akan pernah bisa saling melewati.”Namun  seperti biasa tak pernah ada jawaban yang pasti dari mereka dan tak ada yang mengindahkan ku.
            Ku tutup mataku, seperti sinetron yang sering muncul ditelevisi. Dengan kekuatan fikiran, dan dengan kekuatan hati, kita bisa menyalurkan frekuensi ucapan ataupun bisikan hati kita melalui kekuatan tersebut, kembali aku berbicara “ aku memohon pada kalian berdua, tolonglah kalian jangan seperti aku yang masih kekanak-kanakan berebut mainan milik temanku yang lain, aku sangat mohon diantara kalian harus ada yang mengalah ”  kata ku panjang lebar.
            Segera kubuka mataku, dan mereka menghasilakan sesuatu dari besarnya gaya dorong yang mereka gunakan untuk saling berebut menuju tanah dibumi. Mereka menghasilkan warna yang bervariasi dan indah membentuk setengah lingkaran.
            Keinginanku meminjam kapal terbang milik paman semakin mendalam. Ingin kuhampiri mereka yang bisa memproduksi sesuatu yang indah. Merah, jingga, kuning hijau, biru, nila, dan ungu, indahnya langit itu. Mereka mencari kelemahan lawan masing-masing dan berakhir dengan menghasilkan perpaduan kekuatan dan mampu membentuk warna-warni dilangit yang biru itu.
Aku bertanya pada ibu, yang baru saja menghampiriku setelah mengambilkanku makan siang, “ibu, apa itu yang berwarna warni dilangit?” Tanya ku
“ itu namanya pelangi sayang” jawab ibu tersenyum, sembari menyuapiku makan.
            Aku mengerti sekarang, jika kita mampu membaca kelemahan lawan dan dapat memicu untuk mendapatkan produktifitas hasil karya yang gemilang itu lebih baik dibandingkan dengan selalu bersaing saling menjatuhkan tanpa diiringi dengan kreatifitas yang bermutu.
            Ibu memberikan senyuman hangat ketika menyuapiku, sambil mendorong sepeda baru ku, yang dibelikan  oleh ayah kemarin siang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar